Subsidi Rp600.000 untuk pekerja

Author : amandaeverett
Publish Date : 2021-02-09 12:34:30


Subsidi Rp600.000 untuk pekerja

Serikat buruh di Indonesia mendesak pemerintah melanjutkan program subsidi upah bagi buruh bergaji di bawah Rp5 juta untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga mereka yang kian terimpit akibat pandemi.

Seorang pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia berkata bantuan itu menjadi keharusan karena konsumsi masyarakat kelas bawah menjadi satu-satunya tumpuan perekonomian nasional dan membantu mengangkat pertumbuhan ekonomi agar tidak jatuh semakin dalam.

Jika dihentikan, kata dia, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terus minus hingga kuartal kedua tahun 2021.

Akan tetapi pemerintah menyatakan hingga saat ini belum ada perubahan kebijakan bantuan subsidi upah, merujuk pada hasil evaluasi program tersebut.

Insentif Rp600.000 per bulan kepada karyawan swasta bergaji di bawah Rp5 juta per bulan, pengamat: 'Bagaimana mengawasinya?'
UMP 2021 tak naik, buruh sebut 'tak adil', Kemnaker: 'Upah itu tidak akan menyesengsarakan'
Bantuan modal kerja UMKM disalurkan pekan ini, tapi apakah anggaran Rp28,8 triliun itu efektif saat daya beli rendah dan bagaimana caranya agar tidak jadi 'bancakan'?
Sekretaris Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional, Raden Pardede, mengatakan keputusan menghentikan Bantuan Subsidi Upah (BSU) dilakukan atas dasar hasil evaluasi akhir tahun lalu.

Evaluasi tersebut menilai pekerja bergaji di bawah Rp5 juta tidak terganggu keuangannya, dan bahkan masih bisa menabung.

Ia beranggapan dalam satu keluarga buruh itu baik suami dan istri sama-sama bekerja, sehingga bantuan subsidi tidak terpakai.

Namun dia tidak merinci berapa banyak keluarga buruh yang kondisinya seperti itu dibandingkan dengan keluarga pekerja yang mengandalkan gaji kepala keluarga.

"Evaluasi tahun lalu yang kita lihat, masih banyak yang mendapat subsidi, istrinya juga kerja. Jadi gaji Rp5 juta itu upahnya terlampau tinggi," ujar Raden Pardede kepada Quin Pasaribu yang melaporkan untuk BBC News Indonesia Minggu (07/02).

buruh
SUMBER GAMBAR,ANTARA
Keterangan gambar,
Pekerja perempuan memproduksi alat pelindung diri di sebuah perusahaan garmen.

Karena itu, kata dia, pemerintah menghentikan program BSU dan menggesernya ke program padat karya tunai.

Di sini, kelompok yang disasar adalah masyarakat desa dan miskin. Tujuannya agar kembali produktif dengan diberi uang tunai.

"Kita dahulukan kepada yang lebih butuh dulu. Jadi kalau mereka membuat jalan, irigasi, maka mereka akan dikasih (uang) tunai."

Benarkah klaim pemerintah itu?

Presiden Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI), Elly Rosita, menangkis klaim pemerintah tersebut. Ia mengatakan sejak pandemi banyak pekerja yang gajinya justru dipotong sehingga kelabakan dalam memenuhi keperluan sehari-hari keluarga.

Subsidi upah senilai Rp600.000 setiap bulan disebutnya cukup membantu menambal biaya pengeluaran mereka.

"Untuk orang kelas menengah mungkin tidak signifikan, tapi bagi buruh yang upahnya dikurangi, mereka bisa membeli kebutuhan harian," kata Elly Rosita kepada BBC News Indonesia.

"Jadi bantuan subsidi itu sangat bermanfaat sekali, kalau dihentikan ada enggak subsidi lain? Apakah ada yang bisa diberikan kepada buruh yang dikurangi upahnya?" imbuh Elly.

KSBSI, sambung Elly, akan mengirim surat ke Kementerian Tenaga Kerja dan Presiden meminta agar program ini dilanjutkan. Sebab bantuan sosial berupa sembako tidak didapatkan sebagian besar buruh.

buruh
SUMBER GAMBAR,ANTARA
Keterangan gambar,
Buruh kerja menyelesaikan produksi pakaian di sebuah perusahaan konveksi di Bandung, Jawa Barat, Senin (12/10/2020).

"Kita harap pemerintah berpikir lagi untuk melanjutkan hingga beberapa bulan sampai keadaan normal."

'Kalau subsidi dicabut, hidup cuma sampai pertengahan bulan'
Salah satu buruh di Kawasan Industri Pulogadung, Handi Trisusanto, mengamini pernyataan KSBSI.

Ia berkata sejak Mei 2020 seluruh pekerja di perusahaan makanan olahan Kemfood tidak lagi menerima tunjangan tetap lantaran kondisi keuangan perusahaan yang belum stabil.

Alhasil setiap bulan ia hanya menerima upah pokok sebesar Rp4,3 juta.

Upah tersebut, katanya, habis untuk membayar sewa kontrak rumah, cicilan kredit rumah, dan biaya sehari-hari. Pasalnya, istrinya tidak bekerja.

Adanya subsidi upah yang ia terima tahun lalu bisa meringankan beban keluarganya untuk bertahan hidup hingga akhir bulan.

"(Uang subsidi) itu bisa membantu bayar kontrakan. Jadi gaji bisa utuhlah untuk biaya sehari-hari dan sekolah dua anak."

Tapi kondisi akan berbeda jika subsidi upah itu dihentikan, ujar Handi. Ia berhitung kalau hanya mengandalkan gaji tidak akan sanggup memenuhi kebutuhan keluarganya sebulan penuh.

"Kalau dicabut ya gaji kita sudah berkurang ya habis. Paling-paling sampai pertengahan bulan sudah habis."

"Makanya sekarang itu banyak teman-teman yang cari pekerjaan sampingan, ya jualan, ngojek."

"Harapannya masih dapat bantuan untuk menambah-nambah keperluan keluarga dan buat bayar cicilan kontrakan."

buruh
SUMBER GAMBAR,ANTARA
Keterangan gambar,
Pekerja menyelesaikan pembuatan sepatu wanita di Industri Sepatu rumahan, Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, Senin (19/10/2020).

'Bantuan subsidi upah dicabut, pertumbuhan ekonomi akan terus minus'
Pengamat ekonomi dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Teuku Riefky, menilai pemerintah salah kaprah jika menganggap pekerja atau buruh bergaji Rp5 juta ke bawah keuangannya tidak terganggu sehingga bisa menghentikan program Bantuan Subsidi Upah (BSU).

Data perbankan justru menunjukkan, kelompok masyarakat yang tabungannya Rp10 juta ke bawah, nominalnya terus turun alias terpakai untuk memenuhi kebutuhan harian.

"Realitanya masyarakat berpendapatan Rp5 juta punya cicilan, bayar kontrakan dan yang punya anak bayar SPP. Ini pasti tidak cukup Rp5 juta. Kalau bisa nabung orangnya enggak banyak dan yang bisa ditabung sedikit," ujar Teuku Riefky kepada BBC News Indonesia.

Baginya, subsidi upah untuk buruh/pekerja menjadi keharusan dan tidak bisa dikompromikan jika pemerintah berambisi pertumbuhan ekonomi akan positif pada kuartal pertama tahun 2021 seperti yang diutarakan Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto.

Di Indonesia, 50% lebih komponen pertumbuhan ekonomi disumbang oleh konsumsi rumah tangga.

Tapi saat ini konsumsi masyarakat kelas bawah menjadi satu-satunya tumpuan untuk meningkatkan konsumsi rumah tangga.

Sementara masyarakat kelas menengah atas sama sekali "tak bergerak dan hanya menumpuk uangnya".

"Kondisinya masyarakat kelas menengah ini tidak melakukan konsumsi, karena biasanya mereka konsumsi untuk barang-barang mewah atau untuk hiburan. Nah itu semua tidak mereka lakukan selama pandemi sehingga tidak mendorong konsumsi keseluruhan."

buruh
SUMBER GAMBAR,ANTARA
Keterangan gambar,
Menteri Tenaga Kerja, Ida Fauziah, mengatakan pada tahun lalu sebanyak 15,7 juta pekerja yang memenuhi syarat menerima bantuan subsidi upah.

Ia khawatir jika program BSU dihentikan akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi yang akan terus minus hingga kuartal kedua tahun 2021.

Sebelumnya Badan Pusat Statistik (BPS) pada Sabtu kemarin mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2020 minus 2,07%.

"Ini akan mengganggu pertumbuhan ekonomi di 2021 kalau konsumsi masyarakat tidak terjaga akibat hilangnya BSU. Kalau BSU dihilangkan bisa jadi konsumsi rumah tangga di komponen GDP negatif untuk dua kuartal ke depan."

"Kalau seperti itu, makin lama pertumbuhan ekonomi mencapai positif."

Bantuan Subsidi Upah (BSU) diluncurkan Presiden Joko Widodo pada Agustus 2020 untuk membantu meringankan beban para pekerja di tengah pandemi Covid-19 serta dapat menggeliatkan perekonomian nasional.

Pada tahun lalu sebanyak 15,7 juta pekerja yang memenuhi syarat menerima bantuan ini. Salah satu syaratnya bergaji di bawah Rp5 juta dan terdaftar sebagai peserta aktif program jaminan sosial BPJS Ketenagakerjaan.

Setiap bulan pekerja akan menerima Rp600.000 yang ditransfer ke rekening mereka.

Sejak program ini digelontorkan pada September tahun 2020, total anggaran yang tersalurkan sebesar Rp29,4 triliun.

Berita terkait https://zenodo.org/record/4520265#.YCF_OugzbDc
korupsi
Mensos Juliari Batubara diduga korupsi bansos: Pemerintah lakukan evaluasi, pegiat sebut 'semua program penanggulangan Covid-19 rawan korupsi'
7 Desember 2020
bansos https://zenodo.org/record/4520267#.YCF_PegzbDc
Covid-19: 'Data tak akurat hingga orang meninggal dapat bansos' problem 'lambannya' serapan bansos
28 Juli 2020
virus corona, covid-189, bansos,
Virus corona: Data penerima bansos 'amburadul, Pak RT ketiban pulung'
14 Mei 2020
bansos https://zenodo.org/record/4520353#.YCGBGOgzbDc
Bansos: 'Rakyat khawatir', BPK akan audit aliran anggaran penanganan Covid-19 yang 'cukup dahsyat'
25 Juni 2020
Berita Utama https://zenodo.org/record/4520359#.YCGBHOgzbDc
Polisi gunakan peluru karet dalam hadapi demonstran penentang kudeta Myanmar
2 jam yang lalu
Negara yang tolak vaksin Covid-19 'karena berbahaya' dan serukan pengobatan alternatif seperti hirup uap
27 menit yang lalu
Jelang sidang pemakzulan: Pengacara bantah Trump gerakkan pendukungnya menyerbu Capitol
6 jam yang lalu
Majalah https://zenodo.org/record/4520419#.YCGCUugzbDc



Category : news

‘Kimetsu no Yaiba Movie: Mugen Ressha-hen’ lo logra en Corea a pesar de las controversias

‘Kimetsu no Yaiba Movie: Mugen Ressha-hen’ lo logra en Corea a pesar de las controversias

- Now talking about the Demon Slayer movie Netflix release date, there is no official word on it. But 2021 has been termed to be the best year when it comes


Global Kegs Market Size, Segment, Analysis To 2025

Global Kegs Market Size, Segment, Analysis To 2025

- Global Kegs Market Analysis Report 2020 by Manufacturers, Regions, Type and Application, Forecast to 2025


Evolution - The Devil Is in the Details (Part Five of Six)

Evolution - The Devil Is in the Details (Part Five of Six)

- Did mankind evolve from bacteria? Did the Encyclopedia Britannica evolve from Leo Tolstoys War and Peace


dubious honour of being the dumbest

dubious honour of being the dumbest

- The bottom fell out of the economy. Public sectors are an economy’s biggest employer, or one of them. Unemployment and poverty soared